Jadii...
Saat kecil, kumerasa aku adalah anak yang paling bahagia. Minta ini dituruti, minta itu diberi… Kasih sayang ibu kepadaku juga begitu besar. Tidak sampai ibu memarahiku, apalagi memukulku.
Namun saat usia beranjak lima tahun, saat itu juga aku mulai mengenal bangku sekolah. Bukan sekolah tepatnya, tapi bermain. Mengenal beberapa teman dan dua orang dewasa yang selalu mengajari kami ditempat itu. Baru kutahu kalau dua orang dewasa itu disebut ibu guru. Ibu masih saja setia dengan kasih sayang yang diberikan padaku. Namun, kurasakan kasih sayang itu kian luntur.
Ibu jadi sering memarahiku, atau bahkan tidak segan mencubit bagian tubuhku ketika beliau memerintahkan sesuatu namun tidak kuindahkan karena aku lebih asyik bermain. Aku sering menangis, dan menganggap ibuku jahat. Belum lagi, saat aku terlibat pertengkaran dengan seorang teman. Ibu tidak pernah membelaku, justru beliau memarahiku. Tidak jarang kurasakan kebahagianku yang dulu telah hilang. Kini aku merasa menjadi anak yang tidak dekat dengan kebahagian seiring dengan perilaku ibu yang sering memarahiku dan tidak sesering dulu menuruti permintaanku. Kenapa Tuhan… kini ibuku tidak sayang lagi padaku…
Namun pengaduanku kepada Tuhan itu serta merta terjawab saat kurasakan belaian lembut dikepalaku ketika aku tertidur setelah sempat kurasakan kemarahan ibu sebelumnya. Apakah ibu menyesal karena telah marah padaku?? Ah…dalam hati aku berkata damai, ‘ternyata ibu masih sayang padaku!!’ Tapi apakah aku masih merasa menjadi anak yang paling bahagia??
Saat usiaku mulai mengajakku untuk sedikit berfikir, saat itu pula kusadari bahwa ibu telah mulai tidak jujur padaku. Begitu banyak kebohongan yang ibu katakan…
Kondisi ekonomi keluarga terpaksa mengajak kami untuk tidak dapat merasakan kenikmatan berlebih dalam hal materi seperti orang-orang lain. Ketika makan, sering kali ibu memberikan sekedar nasinya untukku. Seraya memindahkan ke dalam piring kecilku, ibu berkata…”Makanlah nak, ibu masih kenyang…” (KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA)
Suatu siang terik, masih dibangku sekolah yang lebih kuanggap tempat bermain. Kulihat ibu telah setia menungguiku dibawah pohon sawo. Saat kuhampiri, kulihat peluh yang meleleh disekitar wajah ibu. Dengan cekatan ibu menggendongku dalam perjalanan pulang. Kulihat, peluh semakin banyak diwajah bahkan sekujur tubuh ibu. Saat aku minta turun untuk jalan sendiri, ibu berkata…”Tidak usah nak, ibu tidak capek…” (KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA)
Masih kuingat saat malam mulai merayap, hujan lebat menerpa pohon-pohon, hembusan angin menerpa dedaunan dan hawa dingin mulai menusuk tulang. Kami berdua tidur diatas kasur kusam dan berselimutkan kain tipis. Kurasakan ibu menyelimutiku dengan rapat. Saat kulihat ibu tidak berselimut, ibu berkata…”Lekaslah tidur anakku, ibu tidak kedinginan…” (KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA)
Ketika telah menduduki sekolah dasar, aku mengikuti upacara hari kemerdekaan di lapangan sekolah. Kulihat ibu setia menunggu diantara ibu-ibu yang lain. Ketika usai, kuhampiri ibu yang dengan senang hati menyambutku. Diulurkannya kepadaku segelas es teh manis untuk segera kuminum. Aku memang berpeluh, namun ibuku juga tidak kalah berpeluh. Setelah kuteguk beberapa, kuulurkan kembali kepada ibu bermaksud menyuruhnya minum. Namun sambil tersenyum ibu berkata, “Habiskan saja, ibu tidak haus…” (KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT)
Pagi-pagi, kulihat ibu telah tiba dari pasar. Dalam tas yang dijinjingnya, ibu keluarkan sebungkus ikan basah yang dibeli tadi di pasar. Ibu beli ikan…aku senang bukan main. Begitu juga ibu, kulihat senyumnya mengembang. Segera dimasaknya ikan itu.
Begitu aku tiba dari sekolah, telah terhidang sepiring nasi dengan sayur bayam dan sepotong ikan goreng. Dengan lahap aku menyantapnya karena tidak sering aku merasakan seperti ini. Kuperhatikan ibu makan disampingku hanya dengan sayur bayam dan sedikit sambal. Ketika kuambilkan sepotong ikan dipiring, ibu menolak dan mengembalikannya. Ibu meneruskan makan, dan demi melihatku yang memandangnya beliau berucap, “Teruskan makanmu, ibu tidak suka ikan…” (KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA)
Saat ujian tiba, aku benar-benar mempersiapkan semuanya. Aku tidak mau mengecewakan ibu yang telah tulus atas semua yang diberikannya padaku selama ini. Aku belajar dan berdo’a tak henti-hentinya supaya dapat lulus sekolah dasar dan melanjutkan ke tingkat selanjutnya. Tiba mata pelajaran matematika yang besok akan diujikan, aku menambah porsi belajarku mengingat aku tidak terlalu mahir dalam pelajaran ini. Hingga larut malam, ibu masih menemaniku. Setelah lelah, akhirnya aku memutuskan untuk menyudahi belajarku dan beranjak tidur. Namun kulihat ibu pergi ke dapur dan menyiapkan kotak makan serta perlengkapan lainnya untuk kubawa ke sekolah besok. Ketika akan kubantu, ibu menjawab “Cepatlah tidur. Besok kamu akan ujian, biar ibu saja yang menyiapkan semuanya. Ibu tidak ngantuk…” (KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM)
Ujian usai, dan akan diadakan program study tour. Semua teman menyambut dengan gembira. Saat kusampaikan hal ini kepada ibu, kulihat ibu sedikit merenung. Aku tahu ibu tidak punya biaya untuk itu. Beberapa malam berikutnya, disaat teman-temanku membicarakan soal study tour aku tidak berani bicara soal itu pada ibu. Aku lebih memilih diam, takut kalau menyakiti hati ibu. Namun ketika acara study tour hampir tiba, ibu bicara padaku. “Kalau mau ikut, ikut saja. Tapi ibu tidak bisa memberi bekal lebih.” Kujawab, “Tidak usah bu, tidak ikut juga tidak apa-apa kalau memang kita tidak ada biaya.” Namun ibu menjawab dengan lembut, “Tenang saja, ibu punya duit…” (KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH) ya Tuhan, hanya demi melihatku bahagia…
Penerimaan rapor usai. Dengan bangga kubuka lembar demi lembar raporku untuk kutunjukkan pada ibu. Tertera sebuah angka disana yang menunjukkan rankingku. Dengan senyum gembira ibu memelukku hangat dan membelai kepalaku yang masih berbalut jilbab seragam. Tidak sulit memang menorehkan angka yang ada diraporku itu. Namun betapa sulitnya untuk menggerakkan tangan seorang guru untuk kemudian membentuk angka lurus dalam rapor. Ya, aku ranking satu bu… inilah hadiah untukmu. Setelah pengorbananmu padaku. Do’amu dan nasehatmu senantiasa mengalir tanpa kuminta. Bagai sebuah mata air yang mengalirkan airnya tanpa mengharap air itu akan kembali pada sumbernya.
Setelah semua kebohonganmu, sempat membuat hatiku trenyuh. Namun, itu jualah yang membuat hatiku kuat dan semangat untuk bertekad. Aku tak tahu sudah berapa ribu kebohongan serupa yang kau lontarkan selama ini. Selama beberapa tahun belakangan ini. Kuyakin sudah sangat banyak. Dan sampai kapan kau akan terus berbohong, aku tak tahu.
Sumber
Leafy Green Vegetables / Sayuran Hijau
Nuts and Seeds / Kacang-kacangan
Berries / Buah Berry
Curry / Rempah-rempah
Eggs / Telur
Tea / Teh Hijau
Whole Grains / Biji-bijian
Oysters / Kerang / Tiram
Sahabat, bingung dengan kata ini, apa artinya, seseorang mengaku sahabat apa bisa menempatkan diri sebagai sahabat? saat orang yg dikatakannya sahabat itu memerlukan orang yang benar2 sahabat bagi nya, sang sahabat justru pergi meninggalkannya, sahabat is bullshit,
Emang gw g ada sahabat, malahan orang yg mengaku sahabat itu g gw rasain sebagai sahabat, mungkin dulu iya, jaman2 main bersama, jalam bersama, hura2, kebersamaan itu yg diartikan sebagai sahabat. saat itu cuma merasa "saling menguntungkan" itu yg disebut sahabat,
Sekarang? g ada keuntungan yg bisa diambil dari persahabatan ini, semua "sahabat" itu mulai menemukan sahabat-sahabat barunya, dan yg jelas, "menguntungkan".
Dancin' in the dark
Middle of the night
Takin' your heart
Holdin' it tight
Emotional touch
Touchin' my skin
Askin' you to do
What you've been doin=
All over again
Oh, it's a beautiful thing
Don't think I can keep it all in
I've just gotta let you know
What it is that won't let me go
(chorus)
It's your love
Just does somethin' to me
Sends a shock right through me
Can't get enough
And if you wonder
'bout the spell I'm under
It's your love
Better than I was
More than I am
All of that happened
By takin' your hand
Who I am now
Is who I've wanted to be
Now that we're together
Stronger than ever, happy and free
Oh, it's a beautiful thing
Don't think I can keep it all in
And if you ask me why I'll change
All I gotta do is say your sweet name
Feeling together believe in whatever
My love has said to me
Both of us were dreamers Young love in the sun
Felt like my saviour My spirit I gave you
We'd only just begun
Hasta Manana Always be mine
Viva Forever I'll be waiting
Everlasting Like the sun
Live Forever for the moment
Ever searching for the world
Yes I still remember every whispered word
The touch of your skin, giving life from within
Like a love song that I've heard
Slipping through our fingers, like the sands of time
Promises made, every memory saved
Has reflections in my mind
Hasta Manana, always be mine
Viva Forever, I'll be waiting
Everlasting, Like the sun
Live Forever, For the moment
Ever searching, for the world
But we're all alone, was it just a dream
Feelings untold, They will never be sold
And the secrets safe with me
Hasta Manana, always be mine
Viva Forever, I'll be waiting
Everlasting, Like the sun
Live Forever, for the moment
Ever searching, for the world






